Kisah Kapten Ruslan dan Pencuri La Gode

Ruslan Buton membuat heboh dengan surat terbuka mendesak agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) mundur, kini ditahan Bareskrim Polri.

Ruslan ditangkap di di kediamannya di Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada Kamis (28/5) pagi.

Dimata prajuritnya, Kapten (purn) Ruslan Buton adalah sosok pemimpin yang bertanggung jawab dan dekat dengan masyarakat.

Kapten Ruslan diberhentikan dari TNI karena dituding terlibat kasus pembunuhan La Gode sekitar Oktober 2017.

La Gode sendiri adalah seorang petani sekaligus pencuri yang dikenal sangat sadis didaerahnya. Warga yang tahu tingkah laku La Gode tidak ada yang berani memperkarakan karena takut dibunuh atau dianiaya oleh kelompoknya.

Suatu ketika La Gode kembali tertangkap saat kepergok mencuri. Tapi pihak kepolisian kemudian menitipkan La Gode ke pos Satgas Pamrahwan milik TNI yang saat itu dari Yonif RK/732 Banau.

Saat diinterogasi La Gode sempat melarikan diri karena tidak tahan. Tapi tidak lama La Gode akhirnya kembali tertangkap dan diinterogasi hingga akhirnya meninggal.

Mendengar kematian La Gode, masyarakat senang dan tidak ada beban terutama warga Lede Taliabu karena sepak terjangnya sebagai pencuri dan perampok sangat meresahkan warga.

Istri La Gode yang mendengar suaminya meninggal melakukan protes dan mengadukan kasusnya ke Komnasham.

Kematian La Gode kemudian menjadi sorotan.

Prajurit yang tergabung dalam Satgas Pamrahwan Yonif RK 732/Banau diusut termasuk Kapten Ruslan dan anggota posnya. Warga Taliabu sempat mengutarakan harapannya agar Kapten Ruslan dibebaskan karena prajurit TNI yang bertugas dipos tersebut telah banyak membantu warga terutama dari ancaman kelompok La Gode. Namun proses hukum tetap berjalan.

Belasan oknum personel TNI yang bertugas Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau pun didakwa melakukan penganiayaan itu.

Oditur Militer Ambon mendakwa mereka dengan melanggar Pasal 338 jo Pasal 55 ayat (1) KUHP primer Pasal 170 ayat (1) tentang menggunakan tenaga secara bersama-sama untuk melakukan kekerasan terhadap seseorang dan, (3) jo Pasal 156 atau Pasal 170 ayat (1) dan (2) jo Pasal 56 KUHP.

Kapten Ruslan dihukum 1 tahun 10 bulan penjara dan PDTH dari anggota TNI AD karena dianggap ikut bertanggung jawab atas kesalahan anggotanya.

Sumber : https://www.instagram.com/p/CA2BWQrMFF-/?igshid=1pa4ihe8agfj