Industri Ecommerce Jamin Kesiapan Hadapi Pembatasan Sosial Skala Besar

Pedomannusantara.com, Jakarta – Sejumlah langkah antisipasi disiapkan oleh platform dagang elektronik (dagang-el/ecommerce) dalam menghadapi potensi diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial berskala besar.

Adapun Industri ini diharapkan dapat bekerja secara optimal seiring berkurangnya aktivitas fisik masyarakat.

VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak memastikan bahwa masyarakat dapat terus menggunakan layanan platform tersebut secara normal.

Dari sisi logistik, perusahaan pun menjalin kerja sama dengan mitra logistik guna memastikan masyarakat dapat mengirim dan menerima produk yang dibutuhkan.

“Di sisi lain, akan ada perubahan operasional layanan pengiriman untuk beberapa daerah yang menerapkan pembatasan wilayah. Salah satunya dengan menyemprotkan disinfektan ke semua paket dan area sortir,” kata Nuraini dalam pesan singkatnya, Senin (30/3/2020).

Sementara itu, Head Corporate Communication Bukalapak Intan Wibisono mengemukakan bahwa pihaknya telah bersinergi dengan kementerian dan BNPB untuk menyalurkan bantuan dan kebutuhan masyarakat ke jaringan kepada Sahabat Sehat Bukalapak, termasuk 3.3 juta Mitra warung dan agen Bukalapak yang beroperasi di tengah pandemi COVID-19.

Dari segi logistik, Intan mengatakan bahwa pengiriman barang dapat dilakukan oleh mitra logistik secara gratis dan aman tanpa kontak (non-contact delivery) untuk meminimalisasi penyebaran virus.

Sementara itu Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung menyebut dari sisi kesiapan platform, dia meyakini para pelaku usaha telah berada dalam kondisi siap.

Termasuk dalam mengantisipasi potensi lonjakan harga seiring makin terbatasnya aktivitas fisik masyarakat.

“Dari segi platform dipastikan siap. Sistem stabil, termasuk server dalam menghadapi permintaan yang meningkat,” ujar Untung kepada Bisnis, Senin (30/3/2020).

Berkaitan dengan pasokan kebutuhan, Untung sendiri belum bisa memastikan kesiapan para anggota asosiasi karena hal tersebut amat tergantung dari sifat platform.

Untuk platform yang bersifat marketplace, ketersediaan produk akan amat tergantung pada para pedagang yang membuka gerai daring di platform tersebut.

“Kalau untuk marketplace ketersediaan sulit terkontrol karena pasokan dari merchant. Yang bisa dilakukan adalah melakukan pemblokiran permanen kepada pedagang yang menggelembungkan harga secara tidak wajar,” paparnya.

Sementara itu, untuk platform yang bersifat business-to-consumer (B2C), Untung memperkirakan tak ada kendala yang dihadapi terkait pasokan.

Pengelola platform dagang-el model B2C disebutnya hanya memerlukan jaminan bahwa tidak ada gangguan logistik dan dijamin oleh pemerintah kelanjutannya.

Kondisi logistik pun disebut Untung dipengaruhi oleh sifat distribusi yang dilakuan platform dagang-el, apakah menggunakan armada internal atau melibatkan pihak ketiga.

“Kalau menggunakan pihak ketiga tentu kontrol ada di mereka. Kalau armada sendiri kami pastikan tetap beroperasi.”

Lebih lanjut, anggota asosiasi pun telah menyampaikan surat resmi kepada pemerintah yang berisi permintaan untuk menjamin kelanjutan logistik jika implementasi pembatasan fisik diperketat.

“Kami perlu kepastian apakah tetap boleh bergerak. Karena percuma saja jika ada pembatasan tapi logistik juga dibatasi tentu masyarakat akan tetap keluar [dari rumahnya],” tutur Untung.