Opini

WAJAH KOLONIAL DALAM HARI JADI SITUBONDO

Mansur hidayat | Jumat, 19 Juli 2013 - 16:13:34 WIB | dibaca: 431 pembaca

Logo Kabupaten Situbondo

Oleh: Irwan Rakhday

Pemerhati Sejarah Situbondo


Polemik hari jadi Situbondo yang dikemas dalam hari jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) tampaknya akan terus berlangsung. Potensi polemik itu bisa jadi akan berkepanjangan . Pada keputusan DPRD tahun 2009 lalu yang menetapkan tanggal 19 September , berdasarkan lahirnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.28 Tahun 1972 tentang perubahan nama dan pemindahan pemerintah daerah Kabupaten Panarukan, dianggap keputusan yang grusa-grusu dan serampangan oleh berbagai kalangan. Walhasil, pada tahun 2012 tidak ada lagi perayaan Harjakasi. Bahkan seorang jurnalis, Edy Supriyono dalam kolomnya di media Radar Banyuwangi menyebut Situbondo terbelenggu dengan harjakasi, maksudnya dalam penentuan sebuah hari jadi kota/kabupaten berpatokan hanya pada pemerintahan kabupaten secara administratif.Artinya,eksistensi Situbondo tidak dilihat secara geografis/kewilayahan.

Kali ini pemerintah daerah kabupaten Situbondo secara legal formal melalui sidang paripurna DPRD pada Senin, 15 Juli 2013 kembali melahirkan produk Harjakasi. Kali ini berdasarkan Besluit Gubernur Hindia Belanda Nomor 28 tertanggal 15 Agustus 1818. Besluit tersebut menetapkan Raden Adipati Prawiroadiningrat sebagai Bupati Besuki I. Raden Adipati Aria Prawiroadiningrat dianggap berjasa melakukan pembenahan administrasi pemerintahan dan membangun kota Besuki menjadi kota yang paling maju dan ramai di wilayah ujung timur Jawa Timur. Termasuk pembangunan infrastruktur diantaranya, pabrik gula, kantor pemerintahan, penjara, Dam Sluice di Situbondo, sarana dan prasarana pendidikan dan lain-lain.Bahkan dengan dibangunnya bendungan , produk tebu meningkat karena terjadi perubahan ekosistem yakni berubahnya lahan tegalan menjadi sawah.

Menurut Wakil Bupati Situbondo, Rachmad, jasa-jasa Bupati Besuki I hingga kini masih bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Situbondo.Artinya, hal itu menjadi salah satu alasan dipilihnya 15 Agustus 1818 sebagai awal berdirinya Situbondo.

Sekilas hal itu menjadi sebuah pertimbangan yang cukup mengesankan.Tetapi apakah hal itu akan menjadi identitas dan kebanggaan lokal? Identitas tentang sebuah kabupaten yang sedang meraba jati dirinya. Sebuah kabupaten yang merunut kebanggaan lokal untuk sebuah hari jadi. Pertanyaannya adalah, apakah pencarian identitas dapat dibangun dari proses berdirinya sebuah wilayah? jawabannya pasti, Ya. Jika demikian , pasti hal itu harus membanggakan. lalu kebangaan lokal macam apakah yang akan kita gali?

Mari kita lihat sebuah fakta tentang lahirnya Besluit Gubernur Hindia Belanda itu.Sudah terang benderang bahwa hal itu adalah pemerintahan kolonial. Kekuasaan yang diberikan pada pendahulu kita diberikan oleh Belanda. Sejatinya, konsep yang dikembangkan dalam metodologi penelusuran Hari Jadi  idealnya menolak Nerlandosentris (betolak pandang dari pandangan Belanda). Jika dikatakan bahwa hampir semua wilayah di Indonesia tidak berbau kolonial itu konteksnya akan berbeda dengan semangat heroisme kontra penjajah.Semangat heroisme kontra penjajah itulah yang sangat substansial untuk dikedepankan sebagai esensi kebanggaan lokal yang ideal.Atau setidaknya, ikon-ikon sejarah yang belum digali secara maksimal dapat memberikan jawaban sebagai alternatif yang lebih "pribumi".

Kebanggaan lokal semacam itu semestinya menjadi acuannya.Ada jati diri, harkat dan martabat bangsa yang tak ternilai harganya dibandingkan dengan setumpuk materi bahkan jabatan yang dianugerahi oleh bangsa penjajah.Ada kebanggaan semu yang dibangkitkan pada situasi terciptanya kondusivitas, namun kering dengan semangat perlawanan melawan feodalisme bahkan kekuatan primordialisme.Dalam konteks kekinian , hal ini tak hanya tak populer tetapi menjadi sebuah racun sejarah yang harus segera mendapatkan obat penawarnya.

Jika kita berbicara tentang konsep yang dikembangkan dalam metodologi merunut hari jadi, tim penelti Universitas Abdurahman Saleh Situbondo (UNARS) sebenarnya telah merumuskannya.Pada tahun 2004 melalui makalah seminar, pertimbangan utama untuk menetapkan hari jadi Kabupaten Situbondo yaitu berdasarkan peninggalan sejarah tertua, peristiwa sejarah yang mempunyai makna khusus bagi masyarakat dan daerah Situbondo, mempunyai ikatan emosional yang luas bagi masyarakat Situbondo,mampu menimbulkan rasa bangga masyarakat Situbondo dan tidak Nerlandosentris.

Ada sebuah fakta sejarah tentang peran Raden Adipati Aria Prawiroadiningrat yang pada masa kecilnya bernama Raden Sutiknyo. Raden Sutiknyo pernah menjadi Kapten Barisan Sumenep yang juga pernah membantu penjagaan di Semarang, untuk kepentingan Belanda, tentunya.

Berhubung keterlibatannya dalam korps barisan , maka hal itu merupakan bentuk jasa yang diberikan kepada pihak Belanda.Adanya kevakuman jabatan bupati di Besuki maka pemerintah Hindia Belanda minta pertimbangan kepada Sultan Sumenep , Paku Nataningrat, tentang siapa yang pantas menjadi bupati Besuki. Atas pertimbangan Sultan Sumenep, maka Raden Sutiknyo dipandang layak menduduki jabatan Bupati Besuki (R Ng Surjadi, 1974:42)

Fakta sejarah memang demikian adanya.Berbagai daerah/kota/kabupaten ada yang menggali hari jadinya bahkan dengan nuansa pribumi yang membanggakan.Dalam ranah kebanggaan lokal itulah, apakah kita masyarakat Situbondo memang "benar-benar" bersepakat membanggakan hari jadi yang berwajah kolonial? Atau jangan-jangan hari jadi versi DPRD 2009 terjebak primordialisme sempit atau "tak mau ambil pusing" dalam pengambilan keputusan yang "tidak menarik" untuk digali lebih jauh.

 Gambar Foto: http://situbondokab.go.id/










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)