Sejarah

Sultan Agung Serang Blambangan, Memenuhi Doktrin Gung Binantara

Administrator | Minggu, 01 Januari 2012 - 11:27:17 WIB | dibaca: 454 pembaca

Oleh: Lutfiati (sekretaris MPPM Timur) 
 
Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga kerajaan Mataram ini dalam catatan sejarah merupakan raja Mataram yang berhasil mempersatukan hampir seluruh pulau Jawa. Atas kegigihannya menyerang VOC yang kala itu berkedudukan di Batavia membuat nama Sultan Agung Hanyokrokusumo termasuk salah satu pahlawan nasional.

Selain serangan ke Batavia dan Surabaya dalam perjalanannya Sultan Agung menyatukan seluruh tanah Jawa di bawah panji Mataram. Yang juga menarik perhatian adalah serangan Sultan Agung ke Ujung timur pulau Jawa. Dalam ini yang dimaksud dengan Ujung Timur pulau Jawa adalah Blambangan. Blambangan merupakan kantong pertahanan Hindu dan merupakan kerajaan Hindu terakhir di pulau Jawa (Graaf dan Pigeaud, 2003)

Sama halnya dengan penyerangan Sultan Agung ke Batavia maupun ke Surabaya, penyerangan Sultan Agung ke Blambangan juga mengalami hambatan yang cukup besar. Untuk benar-benar menaklukan Blambangan Sultan Agung memerlukan waktu selama 4 tahun (1635-1639) tahun untuk benar-benar menaklukkan wilayah kerajaan ini.

Pada awalnya Mataram berhasil menundukan Blambangan akan tetapi letak Blambangan yang jauh dari pusat pemerintahan menyebabkan lemahnya pengawasan terhadap Blambangan sehingga Blambangan mampu bangkit dan melawan Mataram. Faktor lain yang turut mempengaruhi adalah peran Bali yang selalu membantu perlawanan Blambangan terhadap Mataram. Kedekatan emosional dan secara geografis letaknya pun berdekatan juga menjadi salah satu faktor pendorong Bali selalu membantu dan melindungi Blambangan (Graaf, 2002).

Yang menjadi pertanyaan adalah faktor utama Sultan Agung menyerang Blambangan apakah sekedar Islamisasi atau untuk memenuhi ambisi dari Sultan Agung untuk menyerang Blambangan?. Jika ditinjau dari doktrin "gung binantara" yang menjadi prinsip raja-raja Mataram dimana mengharuskan kekuasaan raja Mataram harus merupakan ketunggalan yang utuh dan bulat. Kekuasaan itu tidak tersaingi, tidak terkotak-kotak terbagi-bagi dan merupakan keseluruhan (Moedjanto, 1987:28).

Dalam doktrin "gung binatara" pun ada semboyan "ngendi ono surya kembar" yang artinya tidak membenarkan adanya kekuasaan raja atau orang lain yang sederajat. Atas doktrin yang dianut inilah maka setiap raja-raja Mataram mengemban misi menyatukan seluruh pulau Jawa dalam panji Mataram tak terkecuali daerah-daerah yang sebelumnya telah menganut agama Islam. Hal ini bisa kita lihat bagaimana ekspansi Sultan Agung ke Surabaya dan Gresik yang mana kedua daerah itu merupakan kantong-kantong Islam di pulau Jawa bagian Timur.

Serangan ke Blambangan yang merupakan kerajaan Hindu terakhir bukan hanya sekedar Islamisasi akan tetapi lebih ke pemenuhan doktrin yang diemban oleh Sultan Agung sebagai raja Mataram.
 
 












Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)