Suara Kebudayaan

Soewandak, Tokoh Pejuang Kemerdekaan Di Lumajang

Administrator | Jumat, 17 Agustus 2012 - 10:02:47 WIB | dibaca: 767 pembaca

munumen kapten suwandak

Reporter : Lutfia Amerta S

Lumajang, pedomannusantara.com- tidak banyak orang yang tahu, siapa sosok yang kini diabadikan dalam sebuah patung yang berdiri dengan tegak di dekat rel kereta Api Klakah. Patung yang terletak di pertigaan Desa Klakah Kecamatan Klakah Lumajang, merupakan patung dari seorang pahlawan yang gagah berani menghalau pasukan Belanda yang akan masuk ke wilayah Lumajang. Soewandak adalah nama sosok yang kini diabadikan dibalik patung yang berdiri dengan tegak.

Di era kemerdekaan pasukan yang di pimpin oleh Suwandak ini terkenal sebagai pasukan yang cerdik dan berani, Soewandak dan teman-temannya lebih fokus bergerilya di daerah Lumajang utara yaitu Ranuyoso, Klakah dan Randu Agung. Ketika pasukan Belanda merangkak masuk menuju Lumajang, Soewandak berserta dengan Kompinya melakukan penghadangan diantara daerah Ranuyoso dan Klakah yang mana daerah tersebut merupakan kunci masuk menuju Lumajang, namun kekuatan yang tidak seimbang membuat Soewandak dan pasukannya menarik diri. Tidak berhenti sampai disitu sesekali Soewandak menyerang markas-markas Belanda, ketika Lumajang secara sepenuhnya dikuasai oleh Belanda.Dengan keuletannya Soewandak berhasil meyakinkan masyarakat untuk bergabung dengan Kompi Soewandak berjuang melawan Belanda yang ingin kembali merebut Indonesia dan tidak terima jika Indonesia menjadi negara yang merdeka.

Selain bergerilya di malam hari, sesekali Soewandak memimpin pasukanya menyerang Belanda di siang hari untuk membuktikan kepada masyarakat dan Belanda bahwa Tentara Indonesia masih ada.“Kapten Suwandak ini bukan asli orang Lumajang, jadi di Lumajang beliau tidak mempunyai sanak family dan usianya ketika gugur pun masih muda dan belum berkeluarga”ujar Sudaryono (56) yang merupakan salah satu pengurus Badan Pembudayaan dan kejuangan 45 Kabupaten Lumajang (DHC 45).

Selama perjuangannya di Lumajang Soewandak dibantu oleh dua ajudannya yaitu Zein Faqih dan Sunarso, melalui dua orang inilah Soewandak melakukan Komunikasi dengan masyarakat Ranuyoso dan klakah yang mayoritas adalah orang-orang Madura.

" Selama berjuang di Lumajang Kapten Soewandak dibantu oleh seorang warga sipil yang bernama bu Sukri. Bu Sukri ini selalu membantu pasukan Soewandak dengan menyediakan kebutuhan logistik untuk keperluan semua pasukan," terang pria yang akrab dipanggil dengan nama pak Dar ini.

Bu Sukri ini merupakan orang yang setia terhadap Kapten Suwandak,”Menurut cerita dan kesaksian dari bu Sukri Kapten Suwandak ini adalah sosok pahlawan yang gagah berani dan pantang menyerah. Ketika tempat persembunyiannya di Sumber Petung Ranuyoso diketahui Belanda, dirinya memrintahkan pasukannya untuk menyelamatkan diri dan Suwandak pun bertarung seorang diri tanpa senjata dengan pasukan Belanda dan akhirnya nyawanya melayang kena serpihan granat yang dilemparkan ke arah Kapten Suwandak dan saat itu bu Sukri bersembunyi di balik batu sehingga tahu persis bagaimana detik-detik sebelum ajal menjemput Kapten Suwandak”jelas Sudaryono.

Bu Sukri dan Haji Ikhsan yang merupakan anggota dari kompi suwandak yang saat ini masih hidup menjadi saksi hidup bagaimana perjuangan bangsa Indonesia khususnya pasukan kompi Suwandak dalam mempertahankan kemerdekan bangsa yang baru saja di raih. (lut/ron/red)










Komentar Via Website : 3
Lukman
31 Agustus 2012 - 17:42:40 WIB
Lumajang yang indah kini jalannya rusak semua, terutama di desa-desa,bagaimana respon pemerintah lumajang tentang problem ini?
dd putra jogotrunan
01 Januari 2013 - 09:31:18 WIB
sayang...kotaku jadi kota iklan,dimana pematung pematung asli lumajang? yang dulu pernah ikut menghiasi lumjang di era bupati suwandi?
dd putra jogotrunan
01 Januari 2013 - 09:36:14 WIB
dulu ada istilah Art for Art......sekarang Art for sale???
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)