Seni & Budaya

Sirahkencong, Wisata Alam dan Sejarah di Kabupaten Blitar

Administrator | Senin, 08 Agustus 2011 - 22:27:32 WIB | dibaca: 590 pembaca

Di bandingan dengan Kabupaten lain, Kabupaten Blitar juga merupakan salah satu tujuan wisata  bagi turis manca negara ataupun turis domestik. Kabupaten ini mempunyai begitu banyak tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya yang sangat memikat hati adalah Perkebunan Teh Sirahkencong.

Sirahkencong merupakan suatu areal perkebunan yang terletak di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar yang termasuk dalam areal perkebunan teh Persero Perkebunan Bantaran PTPN XII. Lokasinya kurang lebih 36 km ke timur dari pusat Kabupaten Blitar. Perkebunan ini berada di lereng barat daya Gunung Kawi pada ketinggian kurang lebih 100 m dpl .

Nama Dukuh Sirahkencong mengingatkan kita kepada kata bahasa jawa yaitu “Sirah”,  yang dimana memiliki arti kepala, namun juga dapat diartikan dengan mata air  atau sungai, sedangkan kata Kencong dari kata Jawa Kuna “Kincang” yang berarti kerlap-kerlip atau bercahaya. Jadi nama Sirahkencong memiliki arti mata air yang bersih atau bercahaya (mata air/ sungai suci). Nama Desa Ngadirenggo juga merupakan nama dari bahasa Jawa Kuna yaitu “Adi / Adhi” yang berarti utama, awal, kepala dan pertama, Sedangkan  renggo berasal dari kata “rangga” yang memiliki arti berwarna, hiasan, atau dirias.Jadi nama Desa Ngadirenggo memiliki pengertian kepala berhias, dalam arti bercahaya (orang suci).
 
Perkebunan Sirahkencong dapat dijangkau melalui dua jalur. Jalur pertama dari pusat Kecamatan Wlingi ke arah utara melewati Desa Beru (alis atau kening) dan kemudian menuju Desa Babadan (baru dibuka). Kemudian ke arah utara lagi hingga mencapai Desa Semen, Kecamatan Gandusari. Ketika sampai di Pasar Semen, perjalanan dilanjutkan ke jalan yang berbelok ke kanan menyusuri jalan yang menanjak dan begitu indah pemandangan alamnya menuju Perkebunan Kawisari.

Saat memasuki Perkebunan Kawisari, tepatnya di depan gapura dan khususnya di muka lambang Perkebunan Kawisari terdapat tinggalan purbakala berupa tiga arca dwarapala kecil. Pada tahun 1900-an Perkebunan Kawisari dinamai Perkebunan Kawirejo. Setelah melewati gapura Perkebunan Kawisari, dengan melewati jalan yang agak menanjak dan berbelok-belok setelah kita disuguhi pemandangan alam yang begitu mempesona, sampailah pada Dukuh Pijiombo, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi. Jarak antara perkebunan Pijiombo dan Sirahkencong ± 4 km.

Dukuh Pijiombo disebelah timurnya terdapat perkebunan teh PT Triwindu, yang bukan merupakan rute ini. Di dukuh ini juga banyak ditemukan tinggalan-tinggalan arca masa Hindhu. Setelah melewati Dukuh Pijiombo dan naik keatas lagi sampailah pada Perkebunan Sirahkencong.

Jalur kedua terletak di sebelah timur. Untuk menuju ke Perkebunan Sirahkencong, perjalanan melewati Desa Pijiombo bagian timur. Namun sayang jalannya sukar untuk dilalui dan terbilang terjal, sehingga jalan alternatif yang mudah dilewati adalah jalur melintasi Desa Semen (apa kata satpam di perkebunan Sirahkencong). Di samping jalur yang melalui pintu masuk area perkebunan, terdapat loket masuk menuju ke wisata perkebunan teh Sirahkencong. Tiket yang dikenakan berupa tiket parkir sepeda motor yang sebesar Rp. 1.000,00 dan tiket jalan-jalan sebesar Rp.2.000,00 per orang.

Perkebunan Sirahkencong dialiri oleh sebuah sungai bernama ”Sungai Parang”, yang berasal dari air terjun Gunung Kawi. Sungai ini mengalir ke bawah, yaitu ke arah barat, lalu membelok ke arah selatan dan bertemu dengan Sungai Lekso di Desa Semen. Sungai tersebut akhirnya menjangkau Sungai Brantas di Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar.

Perkebunan Sirahkencong memiliki jenis tanah andosol yang baik untuk perkebunan teh dan tanaman hutan, terutama hutan Pinus. Perkebunan Sirahkencong sering sekali terkena guyuran hujan, sehingga keadan tanahnya subur dan bahkan sampai mengakibatkan banjir. Oleh karena itu tidak mengherankan bila tanahnya berjenis andosol dan banyak menampung air hujan dan dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan teh sengon, suren dan kina.

Pemandangan di perkebunan teh ini sangatlah mencengangkan dan menakjubkan bagi wisatawan yang mengunjunginya, hamparan luas perkebunan teh yang berwarna hijau dan berbukit membuat para wisatawan enggan untuk cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Salah satu contoh adalah wisatawan domestik keturunan Cina peranakan. Wisatawan tersebut mengelilingi perkebunan Sirahkencong dengan begitu bersemangat dan antusias sambil membawa tongkat kayu untuk mempermudah jalan-jalannya menikmati pemandangan.

Selain itu wisatawan juga disuguhi dengan peninggalan sebuah candi masa hindhu yang terletak di salah satu bukit yang disekitarnya masih terbentang ditanami teh. Candi Sirahkencong ini terdiri dari tiga buah bangunan. Selain itu air sungai yang mengalir di perkebunan ini sangatlah bening dan dingin sehingga wisatawan atau anda yang berminat mengunjungi tempat ini akan merasakan kesejukan, kedamaian dan keindahan tanpa bosan. Perkebunan Bantaran PTPN XII juga menjajakan beberapa hasil produk unggulan tehnya dengan merk "Ken Tea" sehingga wisatawan dapat membawa oleh-oleh untuk dibawa pulang.  Dengan adanya tinggalan kebudayaan masa lampau dan keindahan alam yang menakjubkan kiranya anda sekalian untuk mencoba mendatangi kawasan wisata ini.


                   Oleh: Ferry Riyandika, Alumni Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang










Komentar Via Website : 4
Wawan
08 Agustus 2011 - 22:59:20 WIB
Mas sblmxq minta maaf.pen di situ slh nulis ap gak soal setahuq teh it hdp di ketinggi mlai 1000 dpl.berarti nama kebun teh yg di blitar itu bkn curah kencong soal dikalangan org lingkup kebun teh kertowono lbh terknl dg nama curah kencong n kluq dpt info ky gniq kn bs bnar kn.bagi org lmj msk kebun teh kertowono tw lbh di kenal dg kebun teh gucialit gak bs terknl ky kebun teh sirahkencong soal sma milik PTP XII,ayo dong sbr luaskn di lumajang jg ad kebun teh yg indah.lz yo mas n slm knl dr wawan.
astri
02 Februari 2013 - 14:39:32 WIB
klo boleh tanya, d PTPN 12 ini pa boleh ada mahasiswa yang KK atau KKN?
astri
02 Februari 2013 - 14:40:34 WIB
trma ksh sblmnya......
ayu
03 Februari 2013 - 17:16:11 WIB
Wahh jalannya masih cukup suliitt untk ksitu, batu2nya segede gaban. Jalur transportasi perlu dperbaiki biar spt kebon teh malang
AwalKembali 1 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)