Pernahkah Sang "Ratu Adil" Itu Singgah di Bumi Nusantara?

Keterangan Foto :

Oleh: Mansur Hidayat (Ketua MPPM Timur)

Pada saat kerajaan Majapahit sedang mengalami gonjang-ganjing akibat rontoknya sistem pemerintahan yang berlandaskan agama Hindu Buudha dan terdesak oleh gelombang penyebaran Islam sebagai agam baru di nusantara, para petingginya hanya bisa terkesima dengan tatapan kosong dan hampir tak percaya. Raja Brawijaya V yang merupakan raja Majapahit terakhir hanya bisa tertunduk pasrah karena gelombang  "pengislaman" ini dilakukan oleh putranya sendiri yaitu Pangeran Fatah. Namun tidak demikian halnya dengan para penasehatnya yaitu "Noyo Genggong" dan "Sabdo Palon" yang tidak mau menyerah begitu saja dan melakukan perlawanan dan mengeluarkan "sumpah" dimana ia akan datang kembali 500 tahun kemudian untuk menagih kembali haknya sebagai penguasa tanah jawa.

Kejadian runtuhnya Majapahit pada tahun 1500-an tersebut dapat menjadi gambaran umum keadaan psikologis masyarakat nusantara yang percaya akan kedatangan seseorang atau suatu keadaan yang menjadi impian kebahagiaan dan ketentraman masyarakat. Ratu adil sendiri adalah fenomena keyakinan dalam kebudayaan nusantara yang kemudian bercampur dengan keyakinan keagamaan untuk mengharapkan kedatangan "Sang Mesias" atau penolong. Kita lihat saja di masa-masa yang lebih kemudian fenomena "Ratu Adil", "Imam Mahdi" ataupun "Herucokro" dapat ditemui dalam masa perlawanan bersenjata terhadap  penjajah Belanda. Keyakinan akan munculnya "Ratu Adil" tersebut juga dapat dilihat dalam kitab-kitab fenomenal seperti "Ramalan Jayabaya" maupun "serat Kalatida" karangan pujangga besar RM. Ng. Ronggowarsito.

Munculnya "Pangeran Diponegoro" sebagai pemimpin perlawanan terhadap penjajahan Belanda pada tahun 1825, diyakini oleh para pengikutnya sebagai penjelmaan sang "Ratu Adil". Dimana-mana rakyat menyambut kedatangan sang pangeran dengan harapan dan keyakinan akan "pembebasan" negerinya dari penjajahan asing setelah melewati "Zaman Edan" atau "Kalabendhu". Harapan rakyat yang sangat menggebu-gebu tersebut menyebabkan perlawanan Pangeran Diponegoro berkembang dalam waktu yang begitu pesat sehingga hanya dalam beberapa bulan saja wilayah Jawa Tengah diacam peperangan yang maha dahsyat. Tidak mengherankan jika pada saat pengangkatan sang Pangeran menjadi Sultan, nama Herucokro diselipkan dalam gelarnya.

Meskipun perlawanan bersenjata tidak berlaku lagi, namun fenomena "Ratu Adil" ini tetap berlaku dalam benak pikiran masyarakat nusantara. Kita dapat melihat lahirnya organisasi modern seperti "Saerkat Islam" yang sangat fenomenal dengan anggota jutaan orang pada tahun 1912. Gerakan Sarekat Islam ini ternyata dibayangkan oleh para pengikutnya bukan hanya sebagai suatu "wadah politik" namun juga sebagai tumpuan harapan terhadap sang "Ratu Adil" terutama dalam diri sang pemimpin "HOS Cokroaminoto". Kedatangan HOS Cokroaminoto ke cabang-cabang Sarekat Islam disambut dengan ribuan rakyat yang mengelu-elukan sang "Ratu Adil" ini. Tidak mengherankan jika Sarekat Islam kemudian menjadi momok yang menakutkan bagi pemerintah Belanda karena besarnya keanggotaannya.

Setelah masa "Sarekat Islam" selesai pada tahun 1925-an muncul tokoh muda energik dan mempunyai keahlian luar biasa dalam berpidato dan menggerakkan rakyat. "Bung Karno" yang merupakan ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) pada saat itu memang gandrung terhadap alam pikiran ke-indonesiaan meskipun ia sendiri dibesarkan dengan pendidikan barat. Dalam pidato pembelaannya "Indonesia Menggugat", Bung Karno menyebutkan harapan rakyat terhadap kedatangan "Ratu Adil" dengan tiada habisnya. Latar belakang budaya Jawa dan Bali turut membentuk pribadi Bung Karno sehingga kerjasamanya dengan sang "saudara tua" yaitu Jepang salah satunya karena keyakinannya pada akhir pembebasan nusantara penjajahan Belanda dengan bantuan bangsa "Cebol Kepalang" dan "Berkulit Kuning"  seperti yang diramalkan dalam "Ramalan Jayabaya".

Pada saat Indonesia merdeka di tahun 1945, fenomena penjelmaan "Ratu Adil" dalam diri Bung Karno sangat meluas dikalangan rakyat. Keberhasilannya dalam membebaskan nusantara dari tangan penjajahan Belanda yang telah bercokol 350 tahun lamanya semakin menebalkan keyakinan masyarakat yang sebagian sangat terbelakang pada saat itu. Dewasa ini ketika sebagian besar masyarakat nusantara atau Indonesia sudah maju baik dalam pendidikan maupun taraf hidupnya, fenomena dan harapan tentang "Ratu Adil" itu tetap tumbuh subur sehingga tidak mengherankan jika rakyat lebih suka memilih "pemimpin kharismatik" dalam menalurkan aspirasinya di pemilihan umum.


Ilustrasi: http://freepoison.files.wordpress.com/

Berita Terkait