Pendidikan

Misteri Hilangnya Soeprijadi Di Blitar

Administrator | Rabu, 17 Agustus 2011 - 01:39:14 WIB | dibaca: 583 pembaca

Oleh: Ferry Riyandika, Alumnus Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Malang

Pada tanggal 14 Februari barang tentu bagi generasi muda merupakan hari yang tak akan pernah terlewatkan karena pada hari itu seluruh dunia merayakan Hari Valentine (Valentine's Day) atau disebut juga Hari Kasih Sayang. Hari Valentine masuk ke Indonesia tidak dapat diketahui secara pasti namun pada tahun 1985 Hari Valentine ini sudah banyak digemari oleh kalangan remaja di Indonesia hingga sekarang.
 
Namun ingatkah anda pada tanggal 14 Februari ini merupakan hari apa di Indonesia, khususnya di Jawa Timur? Hari tersebut merupakan hari mengenang peristiwa heroik ketika sekumpulan Pasukan PETA di Blitar melakukan serangan terhadap tentara Jepang.
 
Peristiwa PETA di Blitar di lancarkan pada hari Rabu Pahing, 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Shodanco Supriyadi. Pada pukul 03.00 dini hari yang dimulai hajimecet (mitraliur) sebagai tanda dimulainya perlawanan dari belakang Asrama Ksatriyan (kini SMP Komplek/ Monumen Potelot) untuk membunuh orang-orang Jepang di Kota Blitar. Tembakan mortir mulai diarahkan ke Hotel Sakura dan pengibaran bendera merah putih di lapangan PETA (kini TMP di Kota Blitar di seberang Monumen Potelot).
 
Perlawan tersebut boleh dikatakan gagal, karena pada permulaanya komandan-komandan PETA dan basis pertahannya terpecah di berbagai daerah seperti Shodanco Moeradhi dan Bundanco Poedjijanto ke utara melewati daerah barat Blitar menuju ke perkebunan Nanas dan Perkebunan Gambar di Jengkol Plosoklaten, Kabupaten Kediri. Sedangkan Shodanco Soeprijadi, Shodanco Soenardjo, dan Cudanco Soekendar menuju ke utara hingga sampai di Desa Sumberagung., Kecamatan Gandusari,
 
Pasukan Shudanco Suprijadi meneruskan perjalananya menuju ke Ngantang melewati Krisik. Dimana diketahui di tebing utara Wisata Rabut Monte terdapat Gua Jepang. Selanjutnya menuju daerah Ngantang Kabupaten Malang dimana terdapat Romusha yang sedang membuat kubu-kubu pertahanan, jalan dan sebagainya. Budanco Soenarto menuju ke timur melewati Desa Bence (Garum), Desa Kendalrejo ke utara melewati Kali Putih hingga sampai Sumberagung bertemu dengan pasukaan lainnya. Shodanco Darsip menuju ke Lodoyo. 

Adapun kegagalan perlawanan peta ini juga karena kurangnya koordinasi dengan Pasukan PETA di wilayah sekitarnya seperti Tulungagung, dan Kediri, bahkan se-Jawa. Setelah pemberontakan ini dapat dipadamkan, maka seluruh pelaku perlawanan PETA di Blitar berhasil dilucuti senjatanya bahkan diadili dan dijatuhi hukuman di Jakarta. Beberapa diantaranya dijatuhi hukuman mati dan hukuman penjara.
 
Lebih misterius lagi, sang pemimpin pemberontakan Shodanco Soeprijadi yang menuju ke Ngantang (seorang komandan peleton) pasca pemberontakan itu tak diketahui nasibnya.  Ada yang mengatakan ditangkap dan dibunuh secara diam-diam, ada informasi lain bahwa Shodanco Soeprijadi bertapa (semedi) dan hidup di dunia lain, dimana nanti setelah Indonesia benar merdeka 100% akan kembali muncul. Namun yang pasti kemungkinan Shodanco Soeprijadi sudah meninggal pada tahun berikutnya, karena pada masa selanjutnya, Soeprijadi tidak muncul pada saat pengangkatannya sebagai Menteri Keamanan Republik Indonesia I pada tanggal 5 September 1945.

Pemberontakan tersebut secara kasat mata memang boleh disebut gagal, namun bisa dibayangkan pada jaman itu di kawasan Asia utamanya saat penjajahan Jepang, hanya di Indonesia-lah yang berani melakukan pemberontakan, terhadap ‘pelatih’ nya. Tentara Sukarela yang disebut dengan Tentara PETA itu adalah tentara bentukan Jepang untuk dipersiapkan dan nantinya diperbantukan bagi tentara Jepang pada perang Pasifik melawan Sekutu. Nyatanya, tentara PETA malah ‘memakan tuannya sendiri’.

Demikian kisah perjuangan Shodanco Soeprijadi dengan kawan-kawannya dimana setelah peristiwa tersebut memberi dorongon kepada para pejuang selanjutnya untuk memerdekakan diri dari belenggu penjajahan. Akhirnya cita-cita Shodanco Soeprijadi dengan kawan-kawannya tercapai. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia merdeka. Untuk selanjutnya peristiwa heroik yang dilakukannya merupakan modal awal bagi kita untuk menjaga dan mempertaruhkan jiwa raga demi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pengaruh kebudayaan luar yang negatife dalam era modern ini.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)