Pendidikan

Jugun Ianfu Indonesia, Korban Nafsu Biadab Tentara Jepang

Administrator | Rabu, 17 Agustus 2011 - 01:51:29 WIB | dibaca: 811 pembaca

Oleh: Aries Purwantiny, Alumni Jurusan Arkeologi Universitas Udayana

Wajahnya yang keriput dan badannya yang renta, serta pandangannya yang jauh menerawang entah ke mana? Di matanya terdapat rahasia yang selama ini belum pernah dia ungkapkan. Sebuah rahasia yang pedih bukan saja hatinya, tetapi harga dirinya juga menjadi korban akibat kekejaman tentara Jepang kala menduduki Wilayah Indonesia sebelum Kemerdekaan dikumandangkan. 

Saya melihat wanita-wanita itu ketika saya baru lulus di SMA di TVRI sekitar tahun 1991 yang menyebut dirinya adalah bekas "Jugun Ianfu". Ketika itu televisi menayangkan tentang Pemerintah Jepang akan memberikan santunan kepada bekas Jugun Ianfu. 

Di kepala Saya bertanya-tanya apa itu "Jugun Ianfu"? Dari beberapa info bahwa mereka dulunya adalah adalah wanita penghibur tentara Jepang masa penjajahan Jepang di Indonesia. Bayangan saya wanita penghibur adalah raut wajahnya tidak seperti nenek-nenek yang saya lihat di televisi yaitu wajah yang pedih, sedih, terluka, bahkan ada trauma dalam dirinya, tetapi wajah sebaliknya layaknya wanita penghibur seperti masa sekarang maaf sebelumnya seperti wanita tuna susila (PSK).

Kasus Jugun Ianfu ternyata bukan saja di Indonesia tetapi dialami negara-negara yang dulu pernah menjadi pendudukan Jepang, seperti Korea, Cina, Vietnam, Phillipina, Taiwan dan lain-lain. Masalah ini terungkap tahun 1991 setelah sejumlah wanita bekas Jugun Ianfu dari Korea meminta keadilan kepada Pemerintah Jepang 

atas nasibnya selama ini yang telah dilecehkan bertahun-tahun. Protes keras  itu awalnya ditutupi oleh Pemerintah Jepang, tetapi dilakukan penelitian intelektual jepang untuk menguji kebenaran kasus tersebut. 

Pemerintah jepang akhirnya mengakui bahwa otorisasi Jepang terlibat dalam perekrutan wanita-wanita untuk dijadikan Jugun Ianfu. (Kutipan dari Dekolonisasi Indonesia 02 oleh Indra Ganie yang saya Share dari google).

Kedatangan Jepang di Asia Tenggara terutama di Indonesia disambut gembira, bahkan dianggap sebagai "Saudara Tua". Hal ini karena Indonesia merasa jepang akan membantu dalam menyelesaikan sengketa dengan pihak penjajah Belanda tentang Kedaulatan Negara Indonesia. Tetapi di luar dugaan setelah menyerang Belanda dan diakhiri dengan penyerahan tanpa syarat oleh pihak Pemerintah Belanda  tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati dari Panglima Perang Belanda Jenderal Teer Poorten kepada H. Immamura. 

Jepang melancarkan propaganda 3A yaitu Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia dan Nippon Pemimpin Asia, maksudnya melancarkan paham facisme di Indonesia. Selain itu Asia Tenggara merupakan wilayah supply (home front) untuk mensukseskan Perang Asia Timur Raya, dan salah satunya Indonesia karena kaya akan hasil tambang yaitu minyak bumi.

Pemuda direkrut untuk dijadikan Seinendan (Barisan Pemuda), Gakutotai (Barisan Pelajar), Keibodan (Barisan Bantu Polisi), Heiho (membantu tentara Jepang di Medan peperangan), Peta (Pembela Tanah Air) yang bertugas mempertahankan tanah air dari serbuan sekutu.

Hal ini yang menyebabkan para gadis usia belia antara 13-16 tahun mempercayai untuk direkrut sebagai Jugun Ianfu. Awal perekrutannya berdasarkan kepandaian dan kecerdasan, dan juga diberikan pendidikan bahasa Jepang. Akan tetapi pada kenyataannya mereka dipaksa untuk melayani nafsu setan tentara Jepang. Mereka disekap, disiksa secara seksual dan berhari-hari tercekam apabila mereka akan melarikan diri atau memberontak bahkan ada yang bunuh diri.
 
Gadis-Gadis tersebut di tempatkan pada bangunan tersendiri yang disebut Rumah Bambu, Rumah Kuning atau Rumah Panjang. Diperkirakan ada sekitar 200.000 korban Jugun Ianfu di Indonesia. Kemudian perekrutan itu berubah jadi pemaksaan dan penipuan bahkan diculik dari rumah keluarganya. Para Gadis tersebut disebar di seluruh wilayah pendudukan Jepang, sehingga ketika mereka kembali ke daerah asal banyak kehilangan atau terpisah dengan keluarganya.  

Derita trauma para bekas Jugun Ianfu yang dialami pun bertahun-tahun, bahkan setelah merdeka menjadi hinaan bagi masyarakat sekitarnya. Ada juga Keluarga yang tidak mau menerima kembali sehingga banyak ditampung di panti Jompo atau panti sosial lainnya.  

Saya tergelitik menulis tentang Jugun Ianfu bukan untuk membuka aib, tetapi ada sisi buruk di mana dalam mencapai Kemerdekaan Indonesia banyak pengorbanan yang telah diberikan baik pikiran, nyawa bahkan harga diri yang mungkin saja tidak akan terlupakan begitu saja dalam ingatan.

Lalu apa sebutan bagi mereka para Bekas JUgun Ianfu tersebut? Dapatkah Mereka juga disebut Pahlawan walau mereka membela  tanah airnya dengan cara yang lain  yaitu rela mengorbankan perasaan dan keperawanannya. 

Mereka orang-orang yang terlupakan secara tidak langsung yang juga bagian dari proses Kemerdekaan Indonesia yang kita cintai ini...  
         










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)