Suara Kebudayaan

Desa Kandangan Simpan Peninggalan Prasejarah Lumajang

Administrator | Sabtu, 10 September 2011 - 18:48:44 WIB | dibaca: 556 pembaca

Reporter : Lutfiati

Lumajang (Suaranusantara.com) Berawal dari mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh Masyarakat Perduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPM T) untuk melalukan pengindentifikasian peninggalan sejarah di Kabupaten Lumajang. Suaranusantara.com pada hari Jum’at (09/09/2011) mengikuti perjalanan mereka dengan start di Biting kotaraja Lamajang, menuju ke arah barat wilayah Lumajang yaitu kecamatan Senduro. Perjalanan dilakukan dengan menaiki kuda besi ini menuju Senduro di tempuh dalam waktu 30 menit, dengan jarak kurang lebih 25 km.

Letak Senduro yang berada di kaki gunung Semeru membuat perjalanan yang ditempuh harus melewati jalanan yang agak menanjak, apalagi saat ini jalannya banyak yang berlubang sehingga semakin membuat pengendara harus berhati-hati. Begitu memasuki wilayah kecamatan Senduro hawa dingin yang sejuk mulai meyeruak sehingga membuat hati dan pikiran serasa tenang.

Sesampainya di Senduro, kita langsung disuguhi pemandangan dengan berjajarnya para pedagang pisang. Pisang yang dijual disini bukanlah pisang yang berukuran kecil melainkan pisang yang berukuran besar, yang diberi nama pisang Agung. Pisang Agung merupakan produk unggulan dari kecamatan Senduro bahkan juga sebagai identitas Kabupaten Lumajang. Selain dijual berupa buah pisang, di kecamatan ini juga banyak sentra usaha rumahan yang mengelola pisang Agung menjadi keripik dan sale. Hawanya yang dingin cocok sekali untuk dijadikan sentra peternakan sapi perah dan tidaklah mengherankan jika di Senduro banyak juga terdapat sentra peternakkan sapi perah.

Senduro tidak hanya kaya akan kekayaan alam, di wilayah ini juga terdapat Pura Mandara Giri Semeru Agung yang konon merupakan Pura terbesar di Asia Tenggara. Pura Mandara Giri semeru Agung tidak hanya dijadikan tempat sembahyang oleh umat Hindu di Lumajang saja, tetapi juga di jadikan tempat sembahyang oleh umat Hindu yang berasal dari Bali. Hampir setiap saat Pura ini mendapat selalu dikunjungi oleh wisatawan, baik dari umat Hindu sendiri maupun juga dari wisatawan yang hanya berniat berwisata mengunjungi pura ini.

Perjalanan dilanjutkan terus dari  Pura Mandara Giri terus naik ke atas, menuju sebuah desa yang bernama Kandangan. Kandangan merupakan salah satu desa kuno yang berada di wilayah Lumajang, di desa ini ditemukan beberapa benda kuno diantaranya mangkok perunggu kuno, bangunan berundak, batu tegak dan menhir, dan pecahan porselen. Khusus untuk bangunan berundak, batu tegak dan menhir sampai saat ini masih dilestarikan keberadaannya. Selain dilestarikan di bangunan berundak ini masih digunakan untuk tempat upacara.

Desa Kandangan dari kecamatan Senduro dapat ditempuh sekitar 10 menit dengan jarak sekitar 6 km. jalananan yang dilalui lebih menanjak daripada sebelumnya. Melewati beberapa jembatan dan akhirnya sampailah di sebuah area yang oleh masyarakat sekitar dinamakan sanggar Kandangan. Begitu masuk ke area ini hawa yang lebih dingin terasa menusuk tulang, desa Kandangan ini letaknya hampir mendekati ke pemukiman orang-orang Tengger. Areal situs Kandangan dulu luasnya kurang lebih 5 Ha, akan tetapi luasnya saat ini kurang dari 5 Ha karena tanah disekitarnya telah menjadi hal milik warga.

Memasuki kawasan situs ini kita disuguhi pemandangan yang sangat indah, untuk mencapai situs utama kita harus melalui beberapa undak-undakan yang terbuat dari batu. Di undakan yang paling puncak terdapat beberapa batu-batu dari tradisi masa Prasejarah. Ada 5 buah batu yang oleh masyarakat sekitar dikramatkan, ke 5 Batu tersebut diberi nama Selo gending, Tejo Kusumo, Mbah Pukulun, Linggasiwa dan Wadung Prabu. Wadung Prabu sendiri merupakan batuan yang menempati tempat teratas dalam posisi undak-undaknya. sebenarnya di batu yang dinamakan Wadung Prabu ini terdapat tulisan kuno. Tulisan kuno yang terdapat di wadung Prabu ini sudah aus dimakan usia sehingga tidak bisa terbaca.

Sekitar satu bulan yang lalu warga sekitar hendak membuat selokan  secara tidak sengaja merupa menemukan batu-batuan yang strukrurnya bertingkat-tingkat mirip dengan sebuah undak-undakan. Penemuan ini sekaligus menunjukan bahwa undakan batu tidak hanya berada di sekitar jalan utama saja tetapi juga di tempat-tempat lain di wilayah tersebut. Di sebelah selatan dari situs itu juga terdapat susunan batu-batuan yang mirip dengan meja Batu di pulau Nias, tapi sayangnya kondisinya sudah tidak utuh lagi dan sebagian terendam di dalam tanah.

Menurut Wiradharma (32 tahun) warga sekitar situs menuturkan bahwa situs Kandangan ini sedang dalam proses pemugaran. Pemugaran sendiri di mulai pada bulan Juni 2011.

”pemugaran ini kami lakukan dengan dana swadaya masyarakat Kandangan sendiri, selain itu kami juga sering menerima dana sumbangan dari orang-orang luar yang mengadakan kunjungan kesini,” ujar Wira.

Lelaki yang akrab disapa Wira itu juga menceritakan bahwa masyarakat Kandangan apapun kepercayaannya juga sering mengadakan upacara di situs itu, bahkan jika tanggal 1 Suro datang masyarakat desa Kandangan mengadakan bersih desa di tempat itu. Acara adat tersebut biasanya dipimpin oleh seorang Dukun Tengger, 
“Situs ini tidak hanya milik umat Hindu saja tetapi juga oleh semua golongan,” ujar panitia penggali dana ini.

Lokasi situs Kandangan yang dekat dengan pemukiman orang-orang Tengger membuat tempat ini juga digunakan sebagai tempat upacara oleh suku Tengger. Selain suku Tengger, orang-orang Bali juga sering melakukan upacara sembahyang disitu.

Menurut analisa Aries Purwantiny (37 tahun) kepala Litbang MPPM T menjelaskan bahwa situs Kandangan ini di perkirakan dari masa peralihan antara masa prasejarah ke masa klasik (Hindu-Budha),

“perkembangan tradisi megalitik ini berlanjut mulai dari masa Prasejarah sampai sekarang,” ujar wanita lulusan arkeologi Udayana ini.

Aries juga menambahkan bahwa dengan melihat kontur tanah yang berundak serta penggunan batu besar sebagai media dapat dipastikan bahwa situs Kandangan digunakan sebagai tempat pemujaan masa Prasejarah dilanjutkan sebagai tempat pemujaan masa Hindu-Budha,

”melihat adanya Lingga Siwa dapat dipastikan bahwa situs ini digunakan untuk memuja Siwa”ujar Aries.

Ternyata Lumajang menyimpan banyak pesona, selain menyuguhkan pemandangan alam yang memikat juga menyimpan peninggalan sejarah yang sepenuhnya belum terkuak. (lut/sur)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)