Opini

Bung Hatta, Koperasi dan Korporasi

Lutfia Amerta S. | Sabtu, 13 Juli 2013 - 13:18:42 WIB | dibaca: 372 pembaca

Seorang remaja dari tanah Minang yang taat beragama itupun bersemangat untuk meneruskan sekolahnya ke Batavia sebagai ibu kota negeri yang bernama Hindia Belanda. Tak lama di sana, pemuda itupun berlayar jauh ke negeri yang dia sendiri tak mengenalnya, benua yang hanya jadi mimpi diangan-angannya semenjak di kampung. Negeri baru yang diijaknya adalah Nederland yang menurut lidah kebiasaan teman-teman di kampungnya disebut Kumpeni atau Belanda, suatu bangsa yang mempunyai kulit berbeda dengan orang-orang kampungnya. Pemuda yang beruntung ini tak lain bernama Mohammad Hatta, yang waktu itu baru berumur 19 tahun.

Di negeri kincir angin ini, pemuda Hatta yang belajar dalam ilmu dagang ini kemudian melihat kehidupan di negeri tersebut jauh dari kesan penderitaan dan keterbelakangan seperti yang dialami oleh negerinya. Semangat belajar yang semakin membuncah ini kemudian membuatnya banyak bergelut dengan buku-buku yang tidak hanya di bidang ekonomi semata tetapi juga ideologi-ideologi besar yang banyak berkembang pada waktu itu seperti marxisme, sosialisme dan liberalisme.

Bagi pemuda Hatta, Liberalisme yang dipelopori pertama kali oleh Adam Smith tersebut memang cocok bagi negeri-negeri Eropa yang telah berkecukupan modalnya, namun jika diterapkan bagi negerinya tentu saja akan banyak masyarakat yang tercekik karena kebanyakan bangsanya tidak mempunyai modal yang cukup. Demikian juga jika Marxisme diterapkan secara utuh, tentu saja kakan terjadi banyak pertentangan antara kelas yang satu dengan yang lain dan malah akan membuat perpecahan di negerinya. Bagi Hatta, Sosialisme yang kemudian diwujudkan dalam bentuk Koperasi adalah salah satu jalan keluar bagi bangsanya dimana "kebersamaan" dan kekeluargaan merupakan suatu kekuatan yang dimiliki oleh bangsanya.

Sebenarnya pemikiran pemuda Minang ini telah dirintis oleh organisasi-organisasi pergerakan semisal Budi Utomo dan Sarekat Islam dengan mengadakan Koperasi, namun hal ini tidak serta merta didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan melakukan pembatasan-pembatasan. Hal ini dikarenakan sang penjajah tidak ingin Koperasi ini dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh pergerakan yang sedang getol memperjuangkan kemerdekaannya.

Genderang kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ternyata juga belum bisa membuat usaha yang berbasis kerakyatan seperti koperasi ini berjalan dengan baik. Memang Kongres Koperasi Indonesia telah dimulai pada 12 Juli 1947 yang kemudian di anggap sebagai hari lahir koperasi dan karena kegetolannya memperjuangkan usaha berbasis kerakyatan ini pada tanggal 17 Juli 1953 Bung Hatta yang waktu itu menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Namun semuanya itu tidak lantas menjadikan koperasi Indonesia menjadi ujung tombak perekonomian negara.

Kita tahu betapa program politik ekonomi Indonesia kemudian di dongkrak dengan adanya "Politik Benteng" pada tahun 1950 an yang mana memberi keistimewaan kepada para penguasaha pribumi, namun di lapangan ternya mental berwiraswasta yang belum terasah menyebabkan program benteng  tersebut menjadi "Program Ali Baba" dimana banyak menguntungkan pengusaha non pribumi sehingga dihentikan pada tahun 1957.

Pada masa Orde Baru Koperasi Indonesia seakan jalan ditempat. Rezim Suharto ternyata lebih mementingkan usaha banyak dikuasai oleh konglemerasi dan lebih menyukai sistem Laissez-Faire liberalisme ala Amerika Serikat. Secara besar-besaran pemerintah Republik Indonesia mengundang investor asing tanpa memperhatikan kepentingan ekonomi rakyat kecil. Setelah pemerintahan Suharto tumbang dan reformasi bergulir selama 14 tahun, lahirlah UU No. 17 tahun 2012 dimana banyak kritikan ditujukan oleh para pengamat. Tak kurang Prof. Sri Edi-Swasono, salah seorang ekoonom terkemuka mengatakan bahwa Undang Undang ini telah membuat Koperasi Indonesia semakin jauh dari tujuannya. Prinsip "kebersamaan" dengan mengedepankan keaggotaan "perorangan/ manusia" telah diganti menjadi prinsip "kepemilikan modal" seperti yang dilakukan oleh Perseroan Terbatas dan Korporasi.

Oleh karena itu pada saat Koperasi Indonesia memperingati hari ulang tahun ke-65 tentu hal-hal seperti ini harus direnungkan kembali sehingga para pendiri bangsa ini takkan meneteskan air matanya bagi Republik yang ia cintai. Selamat Hari Koperasi Ke- 65.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)